Pages

Labels

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 27 Juni 2013

Program pemerintah dalam menekan angka kematian ibu melahirkan dan anak belum serius

Issu ini penting karna beberapa tahun belakangan ini Pemerintah Daerah Propinsi Riau tidak begitu memprioritaskan anggaran dalam menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan anak, berbagai fakta juga di temukan dilapangan misalnya ketika ibu mengandung yang mau konsultasi kesehatan dan mau melahirkan terlihat prosedur yang berbelit-belit ditambah fasilitas yang tidak memadai, jika mau dilayani atau langsung ditanggapi maka pasien harus membayar uang terlebih dahulu dalam jumlah yang besar. Seperti yang diamatkan UU No. 39 Tahun 2009 Tentang Kesehatan untuk urusan kesehatan pemerintah menetapkan anggaran sebesar 10 %, bahkan untuk di daerah harus lebih dari yang di tetapkan oleh pemerintah pusat yaitu kisaran 15% keatas baru di katakan sehat.

Pada tahun 2012-2013 melihat dari belanja urusan Kesehatan yang sangat besar yaitu sebesar Rp; 166.442.882.917,00 namun sayang sekali sebesar Rp: 540.000.000,00 atau 0,32% yang dianggarkan untuk program penanggulangan angka kematian ibu melahirkan dan anak, itupun hanya untuk program pegawai kesehatan, bukan untuk penanggulangan langsung terhadap ibu yang akan melahirkan dan anak. Seharusnya anggaran itu lebih untuk penanggulangan terhadap ibu yang akan melahirkan dan anak seperti imunisasi terhadap ibu yang sedang hamil dan perawatan ibu yang telah melahirkan begitu juga imunisasi terhadap bayi. Seperti pada table dibawah ini
Tabel: Program Peningkatan Keselamatan Ibu melahirkan dan Anak dalam T.a 2012-2014 pada urusan Dinas Kesehatan.
No
Uraian
Belanja

Program Penurunan Angka Kematian Ibu dan Anak
2012
2013
 PPAS 2014
1
Peningkatan kinerja pengelola program kesehatan dan keluarga
      120,000,000.00
120,000,000.00
       120,000,000.00
2
Pemantauan pelaksanaan gawat darurat obstetri neonatal didaerah DTPK gawat
      300,000,000.00
300,000,000.00
       300,000,000.00
3
Pertemuan evaluasi akselerasi penurunan kematian maternal dan perinatal Prop Riau
      120,000,000.00
120,000,000.00
       120,000,000.00
4
Evaliasi bringing rate dan filing rate serta logistik buku KIA


       650,000,000.00
5
Peningkatan kualitas hidup anak


       250,000,000.00
6
penguatan kohort bayi dan balita


       300,000,000.00
7
Penguatan rujukan kelainan tumbuh kembang


       200,000,000.00
8
Peningkatan cakupan K4 melalui penguatan P4K dan ANC terpadu


       450,000,000.00
9
Evaluasi Jampersal


       350,000,000.00
10
Pelacakan kasus kematian ibu


       373,135,000.00
11
Peningkatan kapasitas pengelola program kesehatan ibu


       150,000,000.00
12
Fasilitas peningkatan pelayanan KB berkualitas


       200,000,000.00
13
Pengadaan kelas ibu hamil


       450,000,000.00

Jumlah
 540,000,000.00
540,000,000.00
   3,913,135,000.00
       
Terlihat pada tabel diatas, yang dianggarkan dalam APBD dari Tahun 2012-2013 untuk Program menurunkan angka kematian ibu dan anak pada urusan dinas Kesehatan. bahwa dalam rangka untuk menekan angka kematian ibu melahirkan pemerintah sama sekali tidak menyentuh langsung pada program pencegahan kematian ibu melahirkan dan anak atau langsung kepada ibu –ibu hamil dengan perawatan dan pemberian imunisasi bagi ibu hamil dan bayi, pemerintah malah banyak program yang yang sifatnya pelatihan dan tanggap darurat bagi pegawai kesehatan.
Pada tahun 2014 perencanaan anggaran dalam PPAS sangat di apresiasi, melihat alokasi anggaran untuk peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak yaitu sebesar Rp: 3,913,135,000.00 atau sebesar 2% dari total belanja program kesehatan. dengan penambahan sasaran program yang direncanakan yang bisa dikatakan sudah menyentuh langsug untuk keselamat ibu dan anak. Tinggal bagaimana realisasinya kedepan.
Penanggulangan untuk penurunan angka kematian ibu melahirkan dan anak di Propinsi Riau dari tiga tahun terakhir 2009-2011 mengalami peningkatan, ini bukti ketidakseriusan pemerintah dalam menekan angka kematian ibu melahirkan dan anak lewat program-program yang direncanakan, begitu juga pada tahun 2013 terlihat pada anggaran yang dialokasikan untuk program menekan angka kematian ibu dan anak tidak seimbang dengan APBD Riau yang mencapai 8,4 T. Begitu juga dengan Alokasi Anggaran Kesehatan hanya 6,6% dari Total APBD yang tidak mencapai standar sesuai amanat UU kesehatan sebesar 10%.

Tabel: Angka Kematian Ibu, Bayi dan balita Per 1000 kelahiran Propinsi Riau Tahun 2009-2011.
No
Tahun
Angka kematian Ibu
Angka Kematian Bayi
Angka Kematian Balita
1
2009
195,4
11,7
13,6
2
2010
109,9
7,9
5,6
3
2011
122,1
11,4
8,4
Sumber: Profil kesehatan Propinsi Riau
Angka kematian bayi di Provinsi Riau tahun 2009 tercatat sebanyak 11,7% kematian dari 1.000 kelahiran, tahun 2010 tercatat sebanyak 7,9% kematian dari 1.000 kelahiran, tahun 2011 tercatat 11,4% kematian dari 1.000 kelahiran. Sedangkan angka kematian ibu melahirkan di Riau tahun 2009 tercatat 195,36% kematian dari 1000  kelahiran, tahun 2010 tercatat 109,9% kematian dari 1000 kelahiran dan tahun 2011 tercatat 122,1% kematian dari 1000 kelahiran. Sedangkan berdasarkan Standar Nasional untuk menekan angka kematian ibu dan anak perbandingannya adalah 225 kematian dari 100 ribu kelahiran hidup (225/100.000) atau jika dibandingkan dari rata-rata nasional sebesar 125/100.000, ketika di prosentasekan program penurunan angka kematian ibu melahirkan dan anak di Propinsi Riau hanya sebesar 2,25% dari Standar Nasional, melihat capaian pemerintah Propinsi Riau pada tahun 2009-2011 angka kematian ibu melahirkan dan anak masih sangat tinggi, tentu capaian tersebut disebabkan kecilnya anggaran yang dialokasikan untuk program keselamatan ibu melahirkan dan anak yaitu sebesar Rp: 540.000.000 atau sebesar 0,32% dari total anggaran untuk urusan Kesehatan, artinya pemerintah tidak serius untuk mengurusi masalah ini. Selain itu upaya yang dilakukan pemerintah lewat POGI juga berupaya turun ke daerah-daerah untuk membantu masyarakat mendapat pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas namun belum juga dirasakan masyarakat secara keseluruhan.
Terlepas dari itu ada beberapa faktor yang menyebabkan angka kematian ibu dan anak meningkat antara lain; untuk di desa-desa ketersediaan dokter kandungan dan bidan yang sanyat minim bahkan ada beberapa desa tidak memiliki puskesmas dan juga tidak ada bidan bahkan banyak masyarakat desa menggunakan jasa bidan kampung/dukun untuk membatu proses melahirkan, yang mana sesuai dengan SPM Kesehatan bahwa satu bidan atau dokter hanya bisa melayani masyarakat sekitar 500 jiwa. kemudian jarak dengan puskesmas sangat jauh, sehingga akses untuk ibu yang akan melahirkan sangat dikhawatirkan saat menuju puskesmas apalagi infrastruktur jalan rusak sehingga mengakibatkan bagi ibu yang hamil untuk berhati-hati melewatinya, serta ketersediaan fasilitas penunjang ibu melahirkan dan perawatan bayi belum memadai yang perlu di tingkatkan.
Ironis sekali memang jika melihat penganggaran untuk penanggulangan angka kematian ibu melahirkan dan anak hanya untuk pelatihan pegawai kesehatan, herannya pemerintah sama sekali tidak memikirkan tentang penyediaan fasilitas kesehatan ibu hamil, ibu melahirkan dan anak. Begitu juga pemerintah harus berperan aktif dalam hal penyediaan fasilitas jaminan kesehatan ibu melahirkan dan anak.
Kedepan pemerintah melalui Dinas Kesehatan upaya yang harus dilakukan ke depan antara lain adalah dengan antenatal care terhadap ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang profesional, melakukan post natal care pada ibu pasca melahirkan, imunisasi pada ibu hamil dan balita, memasang stiker P4K di rumah ibu hamil, kunjungan neo natus (KN1, KN2, dan KN3), memberikan vitamin A, memberikan pelatihan penanggulangan berat badan lahir rendah.
Jika di lihat dari data pilah bahwa perbandingan antara laki-laki dan perempuan bisa terlihat pada tabel dibawah ini, yang mana jumlah laki-laki lebih banyak dari pada perempuan di Propinsi Riau pada tahun 2012. Ini sangat di sayangkan dari melihat perbandingan tersebut pemerintah tiak bisa memprioritaskan anggaran yang lebih besar untuk menurunkan angka kematian ibu dan melahirkan. Seharusnya ada keseimbangan program antara untuk kepentingan aparatur dengan program penurunan angka kematian ibu melahirkan dan anak. Disamping itu juga anggaran yang sudah di alokasikan untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan anak juga tidak dikelola secara maksimal. Masih banyak terdapat pelaksaan program tersebut yang tidak transparan dan akutabel, buktinya banyak program-program yang tidak bisa dinikmati oleh ibu mengandung, ibu melahirkan dan anak.
Tabel: Data Pilah Laki-laki dan Perempuan Propinsi Riau Tahun 2012
No
Kabupaten/Kota
2012
 Laki-laki
 Perempuan
1
Kuantan Singingi
      159.365
           150.695
2
Indragiri Hulu
      199.895
           189.021
3
Indragiri Hilir
      354.615
           335.323
4
Pelawan
      170.680
           161.395
5
Siak
      208.599
           197.251
6
Kampar
      380.169
           359.486
7
Rokan Hulu
      266.025
           251.552
8
Bengkalis
      272.508
           257.683
9
Rokan Hilir
      306.176
           289.519
10
kepulauan Meranti
         94.128
              89.007
11
Pekanbaru
      495.764
           468.795
12
Dumai
      139.557
           131.965
Jumlah
   3.047.481
        2.881.692
                      Sumber: BPS Propinsi Riau

Kesetaraan gender dalam penganggaran
Jika kita hubungkan dengan masalah gender memang sangat memprihatinkan seharusnya pemerintah lebih menitik beratkan anggaran yang lebih banyak porsinya untuk menyediaan puskesmas dan ketersediaan dokter yang memadai di desa-desa, sehingga masyarakat atau ibu yang akan melahirkan lebih mudah mengakses dan terlayani. Melihat sedikit sekali lokasi anggaran untuk mengurangai angka kematian ibu melahirkan, bagaimana mendorong pemerintah lebih memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan ibu melahirkan dan anak dengan kajian-kajian dan realisasi anggaran yang jelas. Disamping itu juga pemerintah seharus bisa mealokasikan anggaran untuk penyediaan Jampersal dan Jamkesda bagi masyarakat miskin dan kurang mampu yang tepat sasaran.
Sebuah dilema dengan ketidakmampuan pemerintah dalam penyediaan fasilitas ibu melahirkan dan anak, yang mengakibatkan meninggalnya ibu melahirkan dan anak. Banyak permasalahan dalam menekankan angka kematian ibu melahirkan dan anak, mulai dari penyediaan fasilitas memadai, ketersediaan dokter dan bidan yang tidak memenuhi standar SPM Kesehatan serta pelayanan dari pegawai kesehatan yang tidak maksimal atau terlambat untuk melayani yang bisa membuat angka kematian ibu melahirkan dan anak semakin meningkat.
Dalam sebuah penganggaran idealnya harus ada penganggaran yang jelas peruntukkan untuk kepentingan masyarakat lebih bayak begitu juga untuk menekankan angka kematian ibu melahirkan dan anak. Selama ini pemerintah tidak begitu memprioritaskan anggaran yang lebih besar untuk itu. Jika di bandingkan dengan belanja pegawai jauh lebih besar dari anggaran untuk keselamatan ibu melahirkan dan penyediaan fasilitas kesehatan.
Kemudian untuk progaram dan perencaan yang harus dilakukan pemerintah adalah bagaimana pemerintah bisa lebih memberikan anggaran yang lebih atau semacam jaminan kesehatan yang sifatnya mudah di akses oleh masyarakat menengah kebawah atau miskin dan menyediakan fasilitas dan tenaga ahli medik agar bisa tanggap dalam menangani masalah semacam ini. Misalnya pemerintah mealokasikan anggaran yang lebih dalam pencegahan dan penangan kematian ibu melahirkan dan anak, seperti: semacam pelatihan tanggap darurat jika mendadak ada pasien yang mau melahirkan. Apalagi jika melihat postur APBD Riau yang sangat besar, mustahil jika pemerintah tidak bisa memprioritaskan program tersebut, namun kenyataannya adalah pemerintah lebih memprioritaskan anggaran yang lebih besar untuk belanja pegawai dan infrastruktur kesehatan. Kemudian untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan anak, program yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan hanya sebatas pelatihan dan evaluasi untuk aparatur kesehatan saja.
Keluaran/output
Adapun langkah-langkah yang perlu diambil untuk menadvokasi masalah ini adalah mendorong pemerintah untuk lebih mengutamakan anggaran yang lebih besar untuk kesejahteraan masyarakat dengan memberikan format dan gambaran kenyataan yang terjadi. Jika memang langkah ini tidak cukup maka kita harus mengadvokasi lewat jalan litigasi misalnya menyusun strategi menuntut Perda APBD untuk di judicial review. kemudian pengawasan dari masyarakat dan NGO yang harus di perlukan sampai dimana pengelolaan anggaran kesehatan tersebut. Agar terciptanya penganggaran yang responsive gender, seperti:
1.      Sosialisasi kesehatan ibu hamil, melahirkan dan bayi.
2.      Konsultasi pemberian asupan gizi saat ibu hamil sampai menyusui dan anak.
3.      Penyediaan fasilitas ibu hamil, melahirkan dan menyusui di setiap puskesmas.
4.      Akses kesehatan yang tidak berbelit-belit dan terjangkau untuk ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi serta program tanggap darurat.
5.      Ketersediaan bidan pendamping desa yang cukup sesuat SPM kesehatan.
6.      Pembangunan Puskesmas dan Pustu untuk desa yang terisolir.
Perencanaan didalam KUA-PPAS tahun 2014 alokasi anggaran untuk peningkatan keselamatan ibu melahirkan dan anak cukup besar dan adanya penambahan sasaran program-program untuk keselamatan ibu dan anak, seperti didalam table diatas yang bisa dikatakan sudah menyentuh untuk kepentingan ibu melahirkan dan anak. Dan selanjutnya bagaimana penganggaran di dalam KUA-PPAS ini bisa di kawal sampai pada pengesahan APBD 2014 nantinya, serta realisasinya bisa tepat sasaran.
Demikianlah hasil analisis tentang potret kinerja pemerintah Propinsi Riau dalam menekan angka kematian ibu melahirkan dan anak yang masih jauh dari yang diharapkan masyarakat riau secara keseluruhan. Barangkali tulisan ini bisa menjadi bahan pertimbangan pemerintah Riau untuk lebih memprioritas anggaran yang Pro Gender.

0 komentar:

Posting Komentar